Selasa, 27 Desember 2011

Ora Apa Apa (desa paitan)

Kata pertama yang tertulis diatas ( bahasa jawa artinya tidak apa apa ) dan sekaligus sebagai judul dari tulisan ini adalah wujud dari keinginan dari seorang anak muda yang menginginkan apa yang sudah menjadi warisan dari nenek moyangnya untuk selalu dipegang teguh, supaya kelestarian dan keberlangsungan sebuah tradisi dan budaya dapat terlestarikan. Untuk sedikit mengurai maksud judul yang tertulis tersebut, disini akan dijelaskan secara terperinci. Walaupun tanpa data data ataupun sumber yang bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya, tetapi apa yang diuraikan ini adalah sesuai dengan pengalaman langsung sang penulis menghabiskan hidupnya hingga menginjak dewasa seperti sekarang ini ( lebih tepatnya sekarang si penulis merantau ke seberang ). Pertama tama untuk memulai kegelisahan penulis adalah bahwa daerah satu ini adalah daerah yang sungguh tidak menarik untuk para wisatawan (tepatnya karena belum ada promosi dari pihak terkait ), masuk dalam wilayah ibu kota provinsi jawa tengah tetapi lebih dekat dengan daerah istemewa djogjakarta dari pada kota semarang. Tepatnya berada di kabupaten Purworejo, kecamatan Kemiri, desa Paitan. Disebelah barat berbatasan dengan desa Waled, sebelah utara berbatasan dengan desa Gesikan, dan sebelah timur berbatasan dengan desa Tunggorono serta disebelah selatan berbatasan dengan desa Kaliwatu. Perjalanan menuju ke kecamatan Kemiri kurang lebih memakan waktu 15 menit, Sedangkan perjalanan menuju kabupaten Purworejo memakan waktu 45 menit, keduanya itu apabila ditempuh mengunakan sepeda motor. Perjalanan ke Semarang kira kira memakan waktu 3 jam seandainya mengunakan sepeda motor ( kalau yang ini penulis belum pernah membuktikannya sendiri ). Desa Paitan terbagi menjadi beberapa dusun yaitu krajan wetan, krajan kulon, pedukuhan dan gronggonggan. Tidak ada keistimewaan lebih dari desa ini, hal menonjol yang bisa saya tangkap setelah sekitar 24 tahun mengaku menjadi generasi penerus desa tersebut adalah adanya perbedaan lafal bunyi dari kata yang diucapkan oleh setiap warga dusun. Aneh memang dalam satu desa (satu kepala pemerintahan yaitu kepala desa) yang luas wilayahnya sangat kecil (luas tepatnya kurang paham tapi seperti desa desa dijawa pada umumnya ) tetapi mempunyai perbedaan dalam hal bahasa yang digunakan para warga dalam percakapan sehari hari. Perbedaan yang maksud disini adalah pemakaian vocal a dan vocal o yang digunakan oleh masayarakat didesa ini. Memang tidak semua kata kata yang mengalami perbedaan tetapi bagi saya pribadi yang orang awam dan bukan peneliti bahasa ataupun ahli bahasa, sangat kagum dan merasa aneh dengan perbedaan yang dimiliki desa paitan. Perasaan kagum dan aneh yang saya miliki tidak serta merta membuat saya untuk mencari tahu (paling tidak dengan pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana). Bagaimanapun juga kekaguman yang saya miliki atas perbedaaan pelafalan bunyi kata kata yang hanya dimiliki oleh desa paitan (setahu saya desa desa lainnya disekitar tidak memiliki seperti yang dipunyai desa paitan) tidak berarti membuat saya merasa lebih dari daerah lain. Kekaguman yang saya miliki semata mata untuk lebih menghargai arti dari sebuah perbedaan. Saya berikan contoh yang sederhana untuk menjelaskan perbedaan bunyi pelafalan kata kata itu antara lain : apa dan opo (hanya krajan wetan yang mengunakan kata opo), sapa dan sopo (hanya krajan wetan yang mengunakan kata sopo), dan lain lain. Krajan wetan yang cenderung ikut bahasa jawa djogja solo (walaupun jauh dari mendekati mirip) sedangkan krajan kulon, pedukuhan dan gronggonggan mengikuti bahasa jawa tegal banyumasan (walaupun tidak bisa dinamakan bahasa jawa ngapak). Mungkin bisa lebih tepatnya kalau desa saya ( yang bersangkutan pergi merantau ) adalah daerah abu abu (peralihan) antara bahasa jawa djogja solo dengan bahasa jawa tegal banyumasan. Seperti kebanyakan budaya di Indonesia, budaya budaya tersebut harus berjuang keras untuk mempertahankan diri supaya tidak ditinggalkan oleh kerabatnya sendiri dari pembuat budaya tersebut. Budaya budaya tersebut harus berjuang keras melawan “gengsi”. Saya menyebutnya gengsi karena kebanyakan budaya budaya lokal kalah oleh budaya yang datangnya dari luar dan dianggap modern. Hanya budaya budaya yang mampu mengikuti gaya hidup manusialah (akibat dari “gengsi”) yang bisa bertahan walaupun budaya yang digunakan hanyalah semu belaka. Seperti halnya budaya didesa Paitan yaitu perbedaan bahasa antara pelafalan bunyi kata vocal a dan vocal o, salah satu dari bunyi pelafalan tersebut mulai di tinggalkan oleh pengunanya, yaitu bahasa jawa dengan pelafalan bunyi vocal a. Para warga di desa Paitan lebih memilih pelafalan bunyi yang mengunakan vocal o. Bahasa jawa dengan pelafalan bunyi vocal a dipersepsikan oleh masyarakat desa paitan (khususnya kalangan muda mudi) dengan kampungan, rendahan, tidak sesuai dengan jaman modern, tidak cocok untuk pergaulan. Meminjam istilah dari komedian sekaligus pemandu acara program stasiun tv Tukul arwana bahwa bahasa jawa pelafalan bunyi vocal a (khusus didesa saya) adalah katrok. Sebagian kalangan anak muda mudi di desa ini yang meliputi krajan kulon, pedukuhan dan gronggongan enggan untuk mengunakan bahasa jawa dengan pelafalan bunyi vocal a, hanya sebagian kecil dari anak muda saja yang mau mengunakannya. Mereka lebih memilih bahasa jawa dengan pelafalan bunyi vocal o karena alasan yang sudah disebutkan diawal tadi. Kalau ini dibiarkan terus menerus bukan tidak mungkin, hanya dengan hitungan tahun saja keunikan dan kekhasan dari desa ini akan segera hilang ditelan “gengsi” tersebut. Berangkat dari rasa keprihatinan inilah, saya pribadi mempunyai kewajiban terhadap diri sendiri untuk bertekad melestarikan budaya bahasa jawa pelafalan bunyi vocal a (penulis tempat asalnya krajan kulon) dengan cara memulai dari diri sendiri. Memang ini butuh kekuatan yang ekstra lebih supaya bisa menahan gempuran (baca pengaruh) dari bahasa jawa pelafalan bunyi vocal o, dengan cara tidak malu mengunakan bahasa jawa pelafalan bunyi vocal a dengan orang orang satu asal supaya bahasa jawa pelafalan bunyi vocal a tetap eksis walau dengan susah payah untuk bertahan. Bagi saya melestarikan Sesuatu yang sudah diwariskan oleh generasi generasi terdahulu adalah sebuah kewajiban yang harus dipenuhi oleh generasi penerus. Menjaga dan melestarikan dengan cara mengunakanya dalam kehidupan sehari hari adalah wujud dari memartabatkan kehormatan diri sendiri. Bukan malah meniru niru budaya orang lain, itu sama saja membuat orang lebih maju sedangkan kita untuk berdiri saja susah payah. Saya tidak anti dengan kebudayaan pihak lain, tetapi alangkah indahnya apabila kebudayaan yang kita punyai dilestarikan supaya warisan dari generasi generasi terdahulu tidak mati ditelan kemajuan jaman. bukankah masa kini yang unggul adalah masa kini yang mau menghormati masa masa terdahulu. Saya pribadi tidak mengatakan kalau kebudayaan lain jelek, Bagi saya tidak ada yang bisa mengukur atapun menilai tingkatan tinggi rendahnya dari suatu kebudayaan, dalam hal ini bahasa. Semua bahasa adalah keajaiban yang mampu dimiliki oleh sejarah perjalanan hidup manusia dimuka bumi ini, melalui proses yang sangat panjang. Butuh ratusan bahkan hingga ribuan tahun sehinga bisa tercipta suatu bahasa unik seperti sekarang ini. Dahulu sebelum manusia menemukan bahasa sebagai alat komunuksi, alat komunikasi yang digunakan hanya mengunakan bahasa tubuh. Sangat sulit jaman dahulu untuk menjelaskan hal hal yang spesifik karena bahasa tubuh yang dapat digunakan sangatlah terbatas, sehinga dengan penemuan bahasa yang diikuti dengan penemuan tulisan, sangat memudahkan orang dalam hal komunikasi. Penemuan penemuan bahasa yang saat ini dapat kita temui bermacam macam adalah buah karya dari sebuah proses perkembangan dan telah mengalami banyak sekali perubahan, sehingga saat sekarang ini kita bisa berkomunikasi dengan lancar kepada sesamanya. Coba bayangkan apabila sampai saat ini manusia belum mampu menemukan bahasa, sungguh sangatlah menderitanya kita dalam hal komunikasi terhadap sesamanya (mungkin kemajuan iptek saat ini belum akan terjadi). Pada dasarnya dan esensi dari sebuah bahasa adalah untuk mengkomunikasikan apa yang menjadi maksud dan tujuan kita agar bisa sampai kepada orang lain, sehingga sangatlah naif apabila hal yang sangat bermanfaat tersebut (pengkomunikasi ) digolong golongkan ( lebih bagus, lebih sesuai dengan jaman modern, cocok untuk gaul ) yang elemen penggolongannya tidak bisa terdeteksi. Sudah saatnya pemerintah setempat dan para warga di desa paitan untuk sadar dengan keunikan hal ini, keunikan yang tidak di miliki oleh daerah lain. Supaya keberlangsungan keunikan yang dimilikinya tidak tergerus oleh budaya budaya lain. Sehingga budaya yang sudah diwariskan oleh generasi sebelumnya bisa tersampaikan oleh generasi selanjutnya. Jangan sampai generasi yang akan datang hanya bisa mengetahuinya lewat sejarah (kemungkinan besar bukan sejarah tertulis). Padahal keunikan perbedaaan pelafalan bunyi antara vocal a dan vocal o tersebut dapat terlestarikan seandainya para warga menjaganya, dengan cara mengunakan dalam percakapan sehari hari. Apabila perbedaan ini bisa diberdayakan dengan sebaik baiknya, maka banyak potensi yang bisa dimanfaatkan dari desa paitan, diantaranya adalah : wisata bahasa. Masyarakat luar bisa berwisata didesa Paitan, melihat langsung keunikan yang ada di desa Paitan ditambah dengan nuansa alam yang masih alami dan para wisatawan akan disuguhi oleh senyum ramah khas penduduk desa. Disamping itu, desa ini nantinya akan dikenal oleh masyarakat luar karena keunikan perbedaan bahasanya, disamping itu juga akan meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. Maka dari itu untuk mendukung agar semuanya bisa berjalan dengan baik, maka perlu perhatian serius dari pemerintah setempat untuk menyiapkan sarana prasarana yang memadai, guna menunjang program wisata bahasa tersebut. Antara lain sarana jalan, sarana transportasi, penginapan yang representative, sumber daya manusia setempat, dan lain lain. Dan juga yang tidak kalah pentingnya adalah persoalan promosi, melalui pihak yang berwenang pencitraan pencitraan mengenai desa ini (mengenai keunggulan dan pengalaman berharga yang bisa diperoleh apabila mengunjungi desa paitan) harus intensif dilakukan ke luar daerah guna memperkenalkan desa ini ke masyarakat luas. Saya yakin apabila semuanya dikelola dengan baik, maka proyek desa bahasa akan mudah terwujud sehingga kesejahteraan masyarakat setempat akan semakin meningkat dan juga pendapatan pemerintah daerah dari sektor pariwisata juga akan naik Sudah menjadi kewajiban kita semuanya untuk memperhatikan hal hal kecil yang berada disekitar kita, supaya hal hal terbaik yang kita miliki bisa termanfaatkan dengan sebaik baiknya. Mulailah dari diri kita masing masing, mulailah dari hal yang paling kecil yang bisa kita lakukan untuk melangkah ke hal hal yang lebih besar. Dalam lingkup Bangsa Indonesia, Sudah saatnya kita memperhatikan budaya budaya lokal negeri ini, jangan silau dengan budaya yang datang dari luar negeri. Dengan cara mencintai produk produk budaya local masing masing berarti kita telah memperpanjang status Negara Republik Indonesia sebagai Negara yang beraneka ragam (mulai dari suku , agama, ras, bahasa, makanan, dan lain lain). Maukah kita semua ciri khas yang dimiliki bangsa ini hilang? jawaban serentaknya tentu tidak ( bagi orang orang yang punya nasionalisme ). Mari kita tunjukan jati diri bangsa ini melalui penguatan budaya budaya lokal yang dimiliki oleh daerah masing masing. Penguatan yang dimaksud di sini bukan untuk menonjolkan sifat lokalisme sempit, tetapi bagaimana penguatan tersebut bisa mempererat persatuan dan kesatuan sebagai anak bangsa. Dengan semangat toleransi yang tinggi, kita wujudkan perkembangan budaya budaya lokal yang sebesar besarnya. Seperti halnya perbedaan pelafalan bunyi vocal a dan pelafalan bunyi vocal o yang berada di desa Paitan. Mimpi besar saya kelak akan terwujud suatu desa yang dikenal oleh masyarakat luas dengan sebutan DESA PAITAN DESA WISATA. Amin.
Posting Komentar